RSS

Entrepreneurship (Kewirausahaan)

08 Okt

Istilah kewirausahaan (entrepreneur) pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18 oleh ekonom Perancis, Richard Cantillon. Istilah entrepreneur diartikan sebagai “agent who buys means of production at certain prices in order to combine them”. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ekonom Perancis lainnya, yaitu Jean Baptista Say menambahkan definisi Cantillon dengan konsep entrepreneur sebagai pemimpin. Say menyatakan bahwa entrepreneur adalah seseorang yang membawa orang lain bersama-sama untuk membangun sebuah organ produktif. Sedangkan menurut Steinhoff dan John F. Burges, mengemukakan pengertian wirausaha sebagai orang yang mengoganisasi, mengelola, dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha.

Konsep kewirausahaan sampai saat ini terus berkembang. Kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya (Sudrajat, 2011).

Kewirausahaan adalah suatu cara berpikir, menelaah, dan bertindak yang didasarkan pada peluang bisnis, pendekatan holistik, dan kepemimpinan yang seimbang. Inti dari proses kewirausahaan adalah membentuk kreasi, kemajuan, realisasi, penemuan peluang usaha, yang diikuti oleh kemauan dan tindakan meraih peluang (Timmons, 2008).

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli karena sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah :

  1. Richard Cantillon (1775) mengemukakan bahwa wirausaha bekerja sendiri (self employment) dengan menghadapi segala resiko atau ketidakpastian.
  2. Jean Baptista Say (1816) bahwa wirausaha merupakan agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
  3. Frank Knight (1921) wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang wirausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.
  4. Joseph Schumpeter (1934) mengartikan wirausahawan sebagai seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (a) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (b) memperkenalkan metoda produksi baru, (c) membuka pasar yang baru (new market), (d) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (e) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
  5. Penrose (1963) mengidentifikasi kegiatan kewirausahaan yang mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
  6. Harvey Leibenstein (1968, 1979), kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
    1. Israel Kirzner (1979), yang mengemukakan bahwa wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.

Ada enam hakikat penting kewirausahaan menurut Sudrajat (2011) adalah

  1. Suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis
  1. Suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha
  2. Suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
  3. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
  4. Suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha
  5. Usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Dapat disimpulkan kewirausahaan adalah  nilai-nilai yang membentuk karakter dan perilaku seseorang yang selalu kreatif berdaya, inovatif, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya.

Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha. Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Kompetensi kewirausahaan mensyaratkan tiga kompetensi dasar, yaitu (1) berjiwa wirausaha (bisnis), (2) mampu mengelola dan (3) memiliki kemampuan  bidang yang diusahakan. Jiwa wirausaha dapat dibentuk melalui proses pembudayaan yang diintegrasikan dalam pembelajaran. Wirausahawan umumnya memiliki sifat yang sama, yaitu orang yang mempunyai tenaga, keinginan untuk terlibat dalam petualangan inovatif, kemauan untuk menerima tanggung jawab pribadi dalam mewujudkan suatu peristiwa dengan cara yang mereka pilih, dan keinginan untuk berprestasi yang sangat tinggi, sikap optimis dan kepercayaan terhadap masa depan (Marwanti, 2010)

Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Menurut Sudrajat (2011), wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan. Intinya wirausaha adalah orang-orang yang memiliki jiwa kreativitas dan inovatif yang tinggi dalam hidupnya.

Untuk menjadi wirausaha yang berhasil, persyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha. Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa seseorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha (start up), kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunity), kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya (Sudrajat, 2011).

Purnomo (2005) mengungkapkan faktor-faktor pembentuk sikap wirausaha adalah:  kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidup, memiliki keyakinan kuat atas kekuatan diri, jujur dan tanggung jawab, ketahanan fisik dan mental, ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha, pemikiran kreatif dan konstruktif, berorientasi ke masa depan, dan berani mengambil resiko. Selain itu, sikap seorang wirausahawan perlu didukung oleh aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Asfek kognisi merupakan asfek yang mengarah kepada kepercayaan (pengetahuan) seseorang akan kebenaran aktivitas wirausaha yang ditekuninya. Aspek afeksi lebih mengarah pada feeling atau perasaan seseorang terhadap kegiatan wirausaha, dan aspek konasi lebih cenderung pada aktivitas seseorang dalam melakukan wirausaha. Sikap sangat dipengaruhi oleh motivasi, minat, etnis, gender, status sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal, dan pendidikan formal. Tetapi semua faktor yang mempengaruhi tersebut dapat berubah dengan latihan yang nyata. Dalam pendidikan formal, terutama SMK melalui bidang studi kewirausahaan tentunya bisa dilakukan. Guru kewirausahaan dapat merubah sikap siswa melalui berbagai contoh positif wirausawan yang sukses saat ini. Tetapi harus tetap terbuka dalam memberikan informasi kendala dan kegagalan yang juga bisa terjadi. Selanjutnya persepsi siswa tetap didorong pada sesuatu yang positif.

Sikap dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibuthkan oleh seorang wirausahawan agar dapat sukses. Menurut Gooffrey G. Meredith dalam Ade (2009) mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan, sebagai berikut :

No

Ciri-Ciri

Watak

1

Percaya diri

Keyakinan, kemandirian, individualitas, dan optimisme.

2

Berorientasikan tugas dan hasil

Kebutuhan akan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.

3

Pengambil resiko

Memiliki kemampuan mengambil resiko dan suka pada tantangan.

4

Kepemimpinan

Bertingkah laku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, suka terhadap kritik dan saran yang membangun.

5

Keorisinilan

Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serta bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.

6

Berorientasi ke masa depan

Persepsi dan memiliki cara pandang/ cara pikir yang berorientasi pada masa depan.

7

Jujur dan tekun

Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja.

Menurut YSKI (2010), Karakteristik seorang entrepreneur adalah:

  1. Tidak mudah menyerah. Adanya hambatan dan masalah justru membuat mereka merasa lebih tertantang untuk menguasainya.
  2. Berani mencoba sesuatu yang baru, melakukan revolusi perubahan yang dapat membuka sumber pasok bagi suatu produk dan jasa.
  3. Mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain, serta memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru
  4. Dapat menjadi inovator, dengan mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan seperti yang diinginkan
  5. Berani mengambil risiko. Baik risiko yang bersifat finansial (rugi) maupun mental (gagal)

Selain itu, Marwanti (2010) mengemukakan Karakteristik wirausahawan adalah:

1) Keinginan untuk berprestasi. Penggerak psikologis utama yang memotivasi wirausahawan adalah kebutuhan untuk berprestasi, yang diidentifikasikan sebagai. Kebutuhan ini didefinisikan sebagai keinginan atau dorongan dalam diri orang yang memotivasi perilaku kearah pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan merupakan tantangan bagi kompetensi individu.

2) Keinginan untuk bertanggung jawab. Wirausahawan menginginkan tanggung jawab pribadi bagi pencapaian tujuan. Mereka memilih menggunakan sumber daya sendiri dengan cara bekerja sendiri untuk mencapai tujuan dan tanggung jawab sendiri  terhadap hasil yang dicapai.

3) Preferensi kepada resiko-resiko menengah. Wirausahawan bukanlah penjudi. Mereka memilih menetapkan tujuan-tujuan yang membutuhkan tingkat kinerja yang tinggi, suatu tingkatan yang mereka percaya akan menuntut usaha keras tetapi yang dipercaya bisa mereka penuhi.

4) Persepsi pada kemungkinan berhasil. Keyakinan pada kemampuan untuk mencapai keberhasilan adalah kualitas kepribadian wirausahawan yang penting. Mereka mempelajari fakta-fakta yang dikumpulkan dan menilainya. Ketika semua fakta tidak sepenuhnya tersedia, mereka berpaling pada sikap percaya diri mereka yang tinggi dan melanjutkan tugas-tugas tersebut.

5) Rangsangan oleh umpan balik. Wirausahawan ingin mengetahui bagaimana hal yang mereka kerjakan, apakah umpan baliknya baik atau buruk. Mereka dirangsang untuk mencapai hasil kerja yang lebih tinggi dengan mempelajari seberapa efektif usaha mereka.

6) Aktivitas enerjik. Wirausahawan menunjukkan energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata orang. Mereka bersifat aktif dan mobil dan mempunyai proporsi waktu yang besar dalam mengerjakan tugas dengan cara baru. Mereka sangat menyadari perjalanan waktu. Kesadaran ini merangsang mereka untuk terlibat secara mendalam pada kerja yang mereka lakukan.

7) Orientasi ke masa depan. Wirausahawan melakukan perencanaan dan berpikir ke depan. Mereka mencari dan mengantisipasi kemungkinan yang terjadi di masa depan.

8) Keterampilan dalam pengorganisasian. Wirausahawan menunjukan keterampilan dalam mengorganisasi kerja dan orang-orang dalam mencapai tujuan. Mereka sangat obyektif di dalam memilih individu-individu untuk tugas tertentu. Mereka akan memilih yang ahli dan bukannya teman agar pekerjaan bisa dilakukan dengan efisien.

9)  Sikap terhadap uang. Keuntungan finansial adalah nomor dua dibandingkan arti penting dari prestasi kerja mereka. Mereka hanya memandang uang sebagai lambang kongkret dari tercapainya tujuan dan sabagai pembuktian bagi kompetensi mereka.

Dapat disimpulkan bahwa kriteria jiwa wirausaha (entrepreneurship) antara lain berani mengabil resiko, bertanggung jawab dalam setiap tindakan, selalu melihat kondisi lingkungan, memanfaatkan pengalaman, bekerja secara kreatif, inovativ, produktif, berusaha untuk mengukur kemajuan atau performan pekerja, memiliki kompetensi yang relevan, serta memiliki kepekaan terhadap tekanan waktu, kualitas dan pelayanan.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Oktober 2011 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.289 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: