RSS

Pendahuluan: Kewirausahaan (Membentuk Karakter Wirausaha Siswa Melalui Life Skill)

08 Okt

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan bahwa “Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 119,4 juta orang, bertambah sekitar 2,9 juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2010 sebesar 116,5 juta orang atau bertambah 3,4 juta orang dibanding Februari 2010 sebesar 116 juta orang. Penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 111, 3 juta orang, sedangkan jumlah pengangguran pada Februari 2011 mencapai 8,12 juta orang. Jumlah ini menurun 470 ribu orang dibandingkan Februari 2010 sebanyak 8,59 juta orang” (Nadhiroh, 2011).

Pengangguran merupakan masalah krusial yang dapat menyebabkan lambannya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro ekonomi yang paling utama. Walaupun masih begitu banyak pengangguran di Indonesia, namun bukan berarti lapangan kerja tidak ada, akan tetapi para penganggur belum memiliki bahkan dibekali life skill (kecakapan hidup) untuk dapat menciptakan lapangan kerja sendiri sejak dini. Hal ini sejalan dengan dengan ajaran agama yang memperingatkan manusia: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”.

Cara mengatasi pengangguran telah diupayakan oleh pemerintah dengan berbagai jalan, misalnya menggalakkan home industri, mendirikan industri padat karya, dan meningkatkan sumber daya manusia melalui kewirausahaan. Sumber daya manusia bermutu yang memiliki potensi life skills tidak terlepas dari peranan proses pendidikan. Pendidikan di Indonesia telah memasukkan nilai-nilai wirausaha kepada siswa sejak dini. Sangat urgensi memang dimasukkannya pendidikan kewirausahaan, mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, dengan sebagian besar penduduknya adalah angkatan kerja, dan dari jumlah itu adalah tenaga muda dari alumni perguruan tinggi. Jumlah penduduk yang tinggi bisa merupakan potensi jika sebagian penduduk itu merupakan SDM yang berkualitas baik, tetapi bila tidak, jumlah penduduk yang besar itu akan menambah beratnya beban pembangunan.

Menurut Mc Clelland, tampak ada korelasi positif antara jumlah penduduk yang berwirausaha dengan tingkat kemakmuran dalam suatu masyarakat. Tingkat kemajuan dan keterbelakangan suatu negara tidak bergantung pada jumlah penduduk, kekayaan alam, luas wilayah, warna kulit, suku bangsa, atau lamanya kemerdekaan yang dialami, tetapi terletak pada kualitas manusianya. Apalagi memasuki era globalisasi, setiap negara mengalami tantangan yang semakin berat, sehingga banyak negara lemah yang terpuruk. Implikasinya adalah memerlukan kerja keras setiap warga negara Indonesia agar tidak tersisih dari lajunya persaingan dunia (Makassarpreneur, 2011).

Menurut Ciputra, paling tidak ada sedikitnya 10% orang Indonesia yang berbakat menjadi wirausaha (entrepreneur). Tetapi, karena tak pernah dididik, dilatih, dan diberi kesempatan sehingga mereka tidak berhasil menjadi entrepreneur (Makassarpreneur, 2011).

Siswa yang telah lulus nantinya akan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi bagi mereka yang mampu, karena bermimpi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun bagi mereka yang kurang mampu dan tidak memiliki potensi life skill tentulah menjadi pengangguran. Realita lulusan sarjana lebih banyak menganggur akibat persaingan yang sangat ketat.

Tidak imbangnya jumlah pelamar kerja dan lowongan kerja merupakan gejala merata di seluruh pelosok bahkan jumlah penganggur terdidik semakin membesar namun menunjukkan kecilnya jiwa kewirausahaan. Para lulusan lebih tampil sebagai pencari kerja dan belum sebagai pencipta lapangan kerja. Tantangan terpenting adalah bagaimana institusi pendidikan berhasil membentuk, menanamkan semangat, jiwa, sikap, dan karakter kewirausahaan.

Untuk membangun karakter kewirausahaan pada siswa, lembaga pendidikan formal mampu menghasilkan para lulusan yang mempunyai stigma positif terhadap wirausaha serta memberikan wawasan bahwa wirausaha merupakan salah satu lapangan kerja yang terhormat yang sejajar dengan profesi sebagai pegawai/karyawan, serta diharapkan di masa yang akan datang lahir wirausahawan yang mampu berinovasi sehingga negara kita menjadi negara produsen bukan menjadi negara konsumen. Selain itu dapat pula membangun bangsa yang mandiri.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 8 Oktober 2011 in Uncategorized

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.161 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: