RSS

Arsip Tag: cooperative learning

Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)


Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim (Isjoni, 2007). Selanjtnya Riyanto (2010) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan social (social skill) termasuk interpersonal skill.

Slavin (1995) dalam Isjoni (2007) mengemukakan, “In cooperative learning methods, student work together in four member team to master material initially presented by the teacher”. Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar. Selanjutnya Sanjaya (2006) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda(heterogen).

Pembelajaran kooperatif tentu saja bukan hal baru. Para guru sudah menggunakannya selama bertahun-tahun dalam bentuk kelompok laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi, dan sebagainya. Namun, penelitian terakhir di Amerika dan beberapa negara lain telah menciptakan metode-metode pembelajaran kooperatif yang sistimatik dan praktis yang ditujukan untuk digunaka sebagai elemen utama dalam pola pengaturan di kelas, pengaruh penerapan metode-metode ini juga telah didokumentasikan, dan telah diaplikasikan pada kurikulum pengajaran yang lebih luas (Slavin, 2009). Sedangkan menurut Isjoni (2007) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif saat ini banyak  digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada orang lain.

Ada banyak alasan yang membuat pembelajaran kooperatif memasuki jalur utama praktik pendidikan. Salah satunya adalah berdasarkan penelitian dasar yang mendukung penggunaan peembelajaran kooperatif untuk meningkatkan pencaapaian prestasi belajar siswa, dan juga akibat-akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman kelas yang lemah dalam bidang akedemik, dan meningkatkan rasa harga diri. Alasan lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka (Slavin, 2009).

Tujuan utama dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok (Isjoni, 2007). Pembelajaran koperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keseragaman dan pengembangan keterampilan sosial (Suprijono, 2009)

Sharan (1990) dalam Isjoni ( 2007) mengemukakan bahwa siswa yang belajar menggunakan pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi tinggi karena didorong dan didukung dari rekan sebaya. Selanjutnya   Johnson (1993) dalam Isjoni (2007) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membentuk hubungan persahabatan, belajar menggunakan sopan-santun, meningkatkan motivasi siswa, memperbaiki sikap terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu siswa dalam menghargai pokok pikiran orang lain.

Ibrahim (2000) dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga macam tujuan pembelajaran, yaitu: hasil belajar akademik; penerimaan terhadap keragaman; dan pengembangan terhadap keterampilan sosial. Pembelajaran  kooperatif dalam tujuan untuk mencapai hasil belajar akademik, dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Pembelajaran kooperatif juga memberikan efek terhadap penerimaan terhadap keberagaman ras, budaya, kelas sosial, gender, serta tingkat kemampuan. Selain itu yang juga sangat penting, pembelajaran kooperatif sangat jitu untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan untuk bekerjasama, di mana keterampilan ini sangat dibutuhkan di dalam masyarakat.

Adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif  yang dikemukakan oleh Riyanto (2009) yaitu: (1) kelompok dibentuk dengan siswa berkemampuan tinggi, sedang, rendah, (2) siswa dalam kelompok sehidup semati, (3) siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama, (4) membagi tugas dan tanggung jawab sama, (5) akan dievaluasi untuk semua, (6)  berbagi kepemimpinan dan keterampilan uttuk bekerja sama, (7) diminta mempertanggungjawabkan individual materi yang ditangani.

Menurut Suprijono (2009) bahwa terdapat lima prinsip yang mendasari pembelajaran koperatif yaitu (1) Positive independence artinya adanya saling ketergantungan positif yakni anggota kelompok menyadari pentingnya kerja sama dalam pencapaian tujuan, (2)  Face to face interaction artinya antar anggota berinteraksi dengan saling berhadapan, (3) Individual accountability artinya setiap anggota kelompok harus belajar dan aktif memberikan kontribusi untuk mencapai keberhasilan kelompok, (4) Use of collaborative/social skill artinya harus menggunakan keterampilan kerjasama dan bersosialisasi dan perlu adanya bimbingan guru agar siswa mampu berkolaborasi, (5) Group processing artinya siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif.

Model pembelajaran kooperatif memiliki langkah-langkah atau sintaks yang terdiri atas enam fase penting, seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

Tahapan

Kegiatan Guru

1

2

Tahap-1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Tahap-2

Menyajikan informasi

Tahap-3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.

Tahap-4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Tahap-5

Evaluasi

Tahap-6

Memberikan penghargaan

  • Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
  • Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan atau teks.
  • Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan efisien.
  • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
  • Guru melakukan evaluasi (berbentuk games) untuk mengetahui hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
  • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

Sumber: Ibrahim (2000) dalam Trianto (2009)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Juli 2011 in Pembelajaran

 

Tag: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.161 pengikut lainnya.