RSS

Arsip Penulis: kamriantiramli

Tentang kamriantiramli

Berbagilah dengan sesamamu

Peranmu


Peran sang istri sangatlah mudah, mudah melayani suami dan anak anaknya jika kebutuhan keluarga terpenuhi. Dapat memasak masakan apa saja jika bahan bahannya juga tersedia. Dapat melakukan aktivitas apa saja dirumah asal fasilitas tersedia. Penyediaan fasilitas dan bahan-bahan makanan harus bersumber dari peran Ayah, bukan bantuan orangtua. Jika orangtua berperan terus dalam kehidupan rumah tangga anaknya. Kapan Usahanya? Kapan Kerja Kerasnya? Coba pikirkan.  –Peran Suami itu mudah, mudah jika mau bekerja keras demi membahagiakan istri dan anak-anaknya, memenuhi segala kebutuhan rumah tangga. Hidup itu simple… Tausiah pernikahan itu, Suami harus 7 kali bolak balik ke dapur. Gunanya, melihat kebutuhan yang diperlukan. Istri harus 7 kali lebih lagi bolak balik ke dapur. Gunanya, memasak yang bisa dimasak. Kalo nggak ada, hape saja disimpan di meja makan. 😚😚😚. — Peran anak-anak dipenuhi segala kebutuhannya mulai dari bayi hingga setelah ijab kabul. Siapakah yang perlu memenuhinya? Tentu Ayahnya…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Juni 2017 in Uncategorized

 

Akademi kebidanan madani sinjai


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Februari 2017 in Uncategorized

 

Filosofi – Sang Reseptor


Lidah berfungsi merasakan banyak rasa. Manis, asin, asam, pahit. Bayangkan jika lidah tidak mampu merasakan segala rasa. Maka tidak mengenakkan. Bagaimana mimik wajah jika merasakan manis?

Bagaimana mimik wajah jika merasakan asin?

Bagaimana mimik wajah jika merasakan asam?

Bagaimana mimik wajah jika merasakan pahit?

Apakah ini akan berlaku sama dengan proses penerimaan dari beberapa tipe karakter orang?? Ya, tentu

Dan apakah hidup begitu baik jika selalu berada di zona Manis?? Tentu menginginkan yang lain, begitupun rasa yang lain..nggak ada puasnya yah…
Hidup berfungsi merasakan banyak rasa dari beberapa tipe karakter orang. Kenapa mesti begitu!!!, karena sebagai tempat pembelajaran..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Februari 2017 in Pembelajaran

 

Tag: , ,

Hebatnya Kecerdasan Emosional


Jika telah memiliki poin-poin dibawah ini. Maka telah memiliki kecerdasan emosional yang luarbiasa. 

1. Pemahaman terhadap diri sendiri. Paham akan kekurangan. Paham akan kesalahan. Paham akan kelebihan

2. Kemampuan mengontrol perasaan ketika marah, mampu menghibur diri sendiri ketika ( cemas, murung, tersinggung)

3.  Pemahaman terhadap orang sekitar. Paham penyebab sedih dan senangnya. Paham karakter tipe orang. Paham bahasa tubuhnya. Paham kesalahannya. Paham kelebihannya.

4. Mampu sebagai pemotivasi. Mampu memotivasi diri maupun oranglain. maka akan lebih produktif dan efektif dalam beraktivitas.

5. Seni Kemampuan membina hubungan dengan sesama. 

#danielgoleman

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Februari 2017 in Uncategorized

 

Kecemasan (Anxiety)


Cemas dalam bahasa latin “anxius” dan dalam bahasa Jerman “angst” kemudian menjadi “anxiety” yang berarti kecemasan, merupakan suatu kata yang dipergunakan oleh Freud untuk menggambarkan suatu efek negatif dan keterangsangan. Cemas mengandung arti pengalaman psikis yang biasa  dan wajar, yang pernah dialami setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi sebaik–baiknya (Hawari, 2000 dalam Trisnaning 2012).

Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah gangguan alam perasaan (affectiv) yang ditandai dengan  perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (RealityTesting Ability), kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas–batas normal. Ada segi yang disadari dari kecemasan itu sendiri seperti rasa takut, tidak berdaya, terkejut, rasa berdosa atau terancam, selain itu juga segi – segi yang terjadi di luar kesadaran dan tidak dapat menghindari perasaan yang tidak menyenangkan (Jadman, 2001 dalam Trisnaning 2012).

Cemas atau ansietas merupakan reaksi emosional yang timbul oleh penyebab yang tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan merasa terancam.Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya.Cemas berbeda dengan takut, seseorang yang mengalami kecemasan tidak dapat mengidentifikasikan ancaman.Cemas dapat terjadi tanpa rasa takut namun ketakutan tidak terjadi tanpa kecemasan (Kaplan HI & Sadock BJ, 1998 dalam Trisnaning 2012).

Kecemasan adalah perasaan takut dan khawatir yang sangat tidak menyenangkan, tersebar, dan tidak jelas (King, 2010).

Kecemasan merupakan suatu respon terhadap keadaan stress, seperti putusnya suatu hubungan yang penting atau mengalami peristiwa yang mengguncang jiwa.Kecemasan merupakan suatu reaksi terhadap dorongan seksual atau dorongan agresif yang tertekan, yang bisa mengancam pertahanan psikis yang secara normal mengendalikan dorongan tersebut.Kecemasan menunjukkan adanya pertentangan psikis.Kecemasan merupakan salah satu bagian dari respon yang penting dalam mempertahankan diri dari ancaman dunia luar (Junaidi, 2012).

Teori Presdisposisi dan Teori Presipitasi Kecemasan

Beberapa teori yang mengemukakan faktor pendukung terjadinya kecemasan menurut Stuart dan Sundeen (1998) dalam Trisnaning (2012) antara lain:

  1. Teori Psikoanalitik

Menurut pandangan psikoanalitic, kecemasan terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara emosional elemen kepribadian yaitu id, egodan super ego.Id mewakili insting, super ego mewakili hati nurani, sedangkan ego mewakili konflik yang terjadi antara kedua elemen yang bertentangan.Dan timbulnya merupakan upaya dalam memberikan bahaya pada elemen ego.

2. Teori Interpersonal

Menurut pandangan interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.

3. Teori Behaviour

Berdasarkan teori behaviour (perilaku), kecemasan merupakan produk frustrasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Teori Prespektif keluarga

Kajian keluarga menunjukkan pola interaksi yang terjadi didalam keluarga kecemasan menunjukkan adanya interaksi yang tidak adaptif dalam sistem keluarga.

5. Teori Prespektif Biologis

Kesehatan umum seseorang menurut pandangan biologis merupakan faktor predisposisi timbulnya kecemasan.

Menurut Stuart & Sundeen (1998) dalam Trisnaning (2012) faktor pencetus (presipitasi) yang menyebabkan terjadinya kecemasan antara lain:

  1. Ancaman terhadap Integritas biologi seperti:

a) Penyakit

Berbagai penyakit fisik terutama yang kronis yang mengakibatkan invaliditas dapat menyebabkan stres pada diri seseorang, misalnya : penyakit jantung, hati, kanker, stroke dan HIV/AIDS.

b) Trauma fisik

c) Pembedahan

2. Ancaman terhadap Konsep Diri seperti:

Proses kehilangan, perubahan peran, perubahan lingkungan, perubahan hubungan dan Status sosial ekonomi.

Suryabrata (2013) memaparkan tiga macam kecemasan sesuai definisi yang dicetuskan Freud, yaitu:

  1. Kecemasan realistis

Kecemasan ini yang paling pokok, merupakan kecemasan atau rasa takut akan bahaya-bahaya di dunia luar.

  1. Kecemasan neurotis

Kecemasan neurotis adalah kecemasan jika instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum.

  1. Kecemasan moral atau perasaan berdosa

Kecemasan moral atau kecemasan kata hati. Kecemasan moral ini mempunyai dasar dalam realitas

Faktor yang Memengaruhi Kecemasan

Menurut Stuart dan Sundeen (1998) dalam Trisnaning (2012) tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait meliputi hal berikut:

  1. Potensi stresor

Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.

2. Maturasi (kematangan)

Individu yang matang yaitu yang memiliki kematangan kepribadian sehingga akan lebih sukar mengalami gangguan akibat stres, sebab individu yang matang mempunyai daya adaptasi yang besar terhadap stressor yang timbul. Sebaliknya individu yang berkepribadian tidak matang akan bergantung dan peka terhadap rangsangan sehingga sangat mudah mengalami gangguan akibat adanya stres.

3. Status pendidikan dan status ekonomi

Status pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang menyebabkan orang tersebut mengalami stres dibanding dengan mereka yang status pendidikan dan status ekonomi yang tinggi.

4. Tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah stres.

5.Keadaan fisik

Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, penyakit badan, operasi, cacat badan lebih mudah mengalami stres. Disamping itu orang yang mengalami kelelahan fisik juga akan lebih mudah mengalami stres.

6. Tipe kepribadian

Individu dengan tipe kepribadian tipe A lebih mudah mengalami gangguan akibat adanya stres dari individu dengan kepribadian B. Adapun ciri–ciri individu dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa buru–buru waktu, sangat setia (berlebihan) terhadap pekerjaan, agresif, mudah gelisah, tidak dapat tenang dan diam, mudah bermusuhan, mudah tersinggung, otot–otot mudah tegang. Sedangkan individu dengan kepribadian tipe B mempunyai ciri–ciri yang berlawanan dengan individu kepribadian tipe A.

7. Sosial Budaya

Cara hidup individu di masyarakat yang sangat mempengaruhi pada timbulnya stres. Individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur dan mempunyai falsafat hidup yang jelas maka pada umumnya lebih sukarmengalami stres. Demikian juga keyakinan agama akan mempengaruhi timbulnya stres.

8. Lingkungan atau situasi

Individu yang tinggal pada lingkungan yang dianggap asing akan lebih mudah mangalami stres.

9. Usia

Ada yang berpendapat bahwa faktor usia muda lebih mudah mengalami stres dari pada usia tua, tetapi ada yang berpendapat sebaliknya.

10. Jenis kelamin

Umumnya wanita lebih mudah mengalami stres, tetapi usia harapan hidup wanita lebih tinggi dari pada pria.

Tingkat Kecemasan

Menurut Stuart dan Sundeen (1998) dalam Trisnaning 2012 membagi ansietas ke dalam 4 tingkatan sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu :

  1. Ansietas ringan

Ansietas ini adalah ansietas yang normal yang memotivasi individu dari hari ke hari sehingga dapat meningkatkan kesadaran individu serta mempertajam perasaannya.Ansietas pada tahap ini dipandang penting dan konstruktif.

2. Ansietas Sedang

Pada tahap ini lapangan persepsi individu menyempit, seluruh indera dipusatkan pada penyebab ansietas sehingga perhatuan terhadap rangsangan dari lingkungannya berkurang.

3. Ansietas Berat

Lapangan persepsi menyempit, individu bervokus pada hal–halyang  kecil, sehingga individu tidak mampu memecahkan masalahnya, dan terjadi gangguan fungsional.

4. Panik

Merupakan bentuk ansietas yang ekstrim, terjadi disorganisasi dan dapat membahayakan dirinya.Individu tidak dapat bertindak, agitasi atauhiperaktif.Ansietas tidak dapat langsung dilihat, tetapi dikomunikasikan melalui perilaku klien/individu, seperti tekanan darah yang meningkat, nadi cepat, mulut kering, menggigil, sering kencing dan pening.

Menurut Kusumawati (2010), tingkat kecemasan yaitu:

Kecemasan ringan

  • Individu waspada
  • Lapang persepsi luas
  • Menajamkan indra
  • Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif
  • Menghasilkan pertumbuhan dan kreatif                                                                                     Kecemasan sedang
  • Individu hanya focus pada pikiran yang menjadi perhatiannya
  • Terjadi penyempitan lapang persepsi
  • Masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain                                              Kecemasan berat
  • Lapangan persepsi individu sangat sempit
  • Perhatian hanya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berpikir tentang hal-hal yang lain.
  • Seluruh perilaku dimasukkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan untuk focus pada area lain                                                                                    Panik
  • Individu kehilangan kendali diri dan detail
  • Detil perhatian hilang
  • Tidak bisa melakukan apa pun meskipun dengan perintah
  • Terjadi peningkatan aktivitas motorik
  • Berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain
  • Penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif
  • Bisanya disertai dengan disorganisasi kepribadian

Kriteria serangan panic adalah palpitasi, berkeringat, gemetar atau goyah, sesak napas, merasa tersedak, nyeri dada, mual dan distress abdomen, pening, derealisasi atau depersonalisasi, ketakutan kehilangan kendali diri, ketakutan mati dan parestesia.

Gangguan Kecemasan

Menurut King (2010) gangguan kecemasan, terdiri:

  1. Gangguan Panik

Serangan panic yang terus berulang dan ditandai oleh kemunculan yang tiba-tiba akan perasaan khawatir atau perasaan terteror menjadi ciri gangguan panik.

  1. Gangguan Fobia

Gangguan fobia melibatkan ketakutan yang berlebihan, irasional terhadap objek tertentu.

  1. Gangguan Obsesif-Kompulsif

Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan kecemasan di mana individu memiliki pikiran-pikiran yang menimbulkan kecemasan yang tidak akan hilang.

  1. Gangguan Stres Pascatrauma

Gangguan stress pascatrauma adalah gangguan kecemasan yang berkembang karena paparan terhadap kejadian traumatis, situasi yang sangat menekan, penyiksaan, dan bencana alam ataupun bencana akibat perilaku manusia.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2017 in Pembelajaran, Uncategorized

 

Tag: ,

Perilaku Seksual dan Orientasi Seksual


PERILAKU SEKSUAL DAN ORIENTASI SEKSUAL

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Mei 2016 in Uncategorized

 

Tag: ,

SDG’S (Sustainable Development Goals)


KAMRIANTI RAMLI (SDGS)