RSS

Arsip Kategori: Mikrobiologi

What is Fermentasi


Fermentasi merupakan suatu proses terjadinya perubahan kimia pada suatu substrat melalui aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikroba, walaupun dalam beberapa hal dapat juga terjadi tanpa kehadiran sel-sel hidup (mikroba).

Untuk melakukan metabolisme, mikroba membutuhkan sumber energi berupa karbohidrat, sedangkan protein, lemak, mineral, dan asam nukleat sangat penting untuk mensintesis zat penyusun sel. Kebanyakan bahan pangan mengandung zat-zat tersebut dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan aktif organisme-organisme fermentatif (Purnomo dan Adiono, 1987).

Winarno (1980) dalam Busthanul dan Langkong (2004), menyatakan bahwa fermentasi dapat terjadi karena aktivitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai. Terjadinya fermentasi ini dapat menyebabkan perubahan sifat bahan pangan, sebagai akibat dari pemecahan kandungan bahan pangan tersebut. Sebagai contoh, buah atau sari buah dapat menghasilkan rasa dan bau alkohol, ketela pohon dan ketan dapat berbau alkohol atau asam (tape), susu menjadi asam.

Menurut Surono, (2004) bahwa dalam fermentasi susu ada beberapa zat gizi yang mengalami perubahan, salah satunya adalah protein. Protein yang terkandung di dalam susu akan dirombak oleh bakteri asam laktat dan menghasilkan asam amino bebas yang banyak. Asam amino ini akan digunakan oleh bakteri untuk mensintesis selnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2013 in Mikrobiologi

 

Tag:

Bakteri Asam Laktat


Soyghurt merupakan susu kedelai yang difermentasi dengan bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat merupakan spesies bakteri yang mempunyai kemampuan untuk membentuk asam laktat dari metabolisme karbohidrat dan tumbuh pada pH lingkungan yang rendah (Ubbe, 2005).

            Bakteri asam laktat memiliki karakteristik berbentuk batang atau kokus, gram positif, katalase negatif, tidak membentuk spora, tidak bergerak, tidak mempunyai sitokrom, anaerobik, membutuhkan nutrisi yang kompleks seperti asam-asam amino, vitamin (B1, B6, B12) dan biotin (Gobel, 2005).

Kelompok bakteri asam laktat merupakan bakteri probiotik. Bakteri probiotik adalah bakteri yang berperan dalam menjaga harmonisasi ekosistem dalam usus. Keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan yang optimum tergantung pada konsumsi nutrien berimbang dan kondisi kesehatan seseorang (Djide, 2005).

Menurut Mohamad (2002) dalam Yuliana (2004), soyghurt merupakan salah satu sediaan yang mengandung probiotik. Probiotik dapat meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki keseimbangan flora usus jika dikonsumsi dalam keadaan hidup dan dalam jumlah yang memadai. Jenis probiotik yang paling umum adalah dari golongan Lactobacillus bulgaricus, L. casei, L. acidophillus, dan Streptococcus thermophillus.

Bakteri asam laktat digolongkan menjadi dua berdasarkan sifat fermentasinya yaitu homofermentatif dan heterofermentatif. Homofermentatif ialah bakteri yang hanya menghasilkan asam laktat dari metabolisme gula dan digunakan dalam fermentasi susu menjadi yogurt, contohnya Lactobacillus acidophilus, L. bulgaricus, dan Streptococcus thermophillus. Sedangkan heterofermentatif menghasilkan asam laktat, karbondioksida, sedikit asam volatil, alkohol dan ester serta digunakan dalam industri susu untuk menghasilkan keju dan senyawa flavor, senyawa cita rasa maupun pengental; contohnya Lactobacillus casei (Gobel, 2005).

Lactobacillus bulgaricus sangat penting dalam fermentasi soyghurt, karena akan menghasilkan asam laktat. Menurut Anonim (2006), kombinasi antara Streptococcus thermophillus dan L. bulgaricus dapat meningkatkan produksi asam laktat yang lebih tinggi. S. thermophillus tumbuh lebih cepat dan menghasilkan asam dan karbondioksida. Karbondioksida ini akan menstimulasi pertumbuhan                         L. bulgaricus. Disamping itu, aktivitas proteolitik dari L. bulgaricus akan menghasilkan peptida dan asam amino yang digunakan oleh S. thermophillus. S. thermophillus berperan dahulu untuk menurunkan pH sampai sekitar 5,0 baru disusul L. bulgaricus menurunkan lagi sampai mencapai 4,0. Menurut Anonim (2006), L. bulgaricus lebih berperan pada pembentukan aroma, sedangkan S. thermophillus lebih berperan pada pembentukan cita rasa soyghurt. Menurut Surono (2004), aktivitas peptidase S. thermophillus lebih kuat ketimbang L. bulgaricus dan aktivitas proteinasenya terbatas, sementara kemampuan L. bulgaricus menghidrolisis kasein menunjukkan aktivitas proteinase yang jauh lebih kuat. L. bulgaricus dan S. thermophillus resistensi terhadap asam lambung sangat rendah disbanding bakteri L. casei dan L. acidophilus.

Lactobacillus acidophilus umumnya dikenal sebagai bakteri probiotik. Banyak ditemukan pada saluran pencernaan dan dapat menghasilkan antibiotik alami yang disebut “lactocidin” dan “acidohilin”, yang dapat meningkatkan resistensi imun terhadap bakteri patogen dan fungi seperti Escherchia coli (Dwyana, 2005). Bakteri ini memiliki temperatur pertumbuhan optimum pada 37ºC dan relatif toleran terhadap oksigen dibandingkan dengan spesies probiotik lainnya seperti Bifidobacterium. Di bawah suhu 20ºC pertumbuhannya sudah melambat dan kebanyakan spesies ini tidak tumbuh lagi pada suhu 15ºC (Anonim, 2006).

Menurut Anonim (2006), Lactobacillus casei juga merupakan bakteri probiotik meskipun juga digunakan pada beberapa kultur starter pada keju Cheddar. Menurut Dwyana (2005), L. casei  berfungsi sebagai sistem imun berupa bakteriosin yang menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada saluran pencernaan, selain itu juga sangat efektif dalam peningkatan immunoglobulin A. Menurut Mufidah (2000) dalam Yuliana (2004), menyimpulkan bahwa L. casei subsp casei R-52 dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol pada manusia. Menurut Surono (2004), L. casei tersebar di alam dan telah diisolasi dari produk-produk olahan susu dan saluran pencernaan berbagai hewan. Jenis bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,4-9,6.

Streptococcus thermophillus adalah bakteri gram positif, berbentuk bulat yang terdapat sebagai rantai. Jenis ini memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertambahan berat badan, meningkatkan gerakan perut dari 4,8 kali dalam 10 hari menjadi 5,7 kali (Edwin, 2006).

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2013 in Mikrobiologi

 

Tag: , , ,

MIKROBIOLOGI


PERT 1-5 MIKROBIOLOGI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Oktober 2012 in Mikrobiologi, Uncategorized

 

Tag:

MORFOLOGI DAN IDENTIFIKASI KHAMIR DARI IDOLASI KELAPA LONTAR DI THAILAND


Morfologi dan Identifikasi Ragi Terisolasi dari Toddy Palm di Thailand

Somyot Tuntiwongwanich, Borwonsak Leenanon

 Abstrak

Isolasi dan identifikasi ragi dari buah lontar matang dikumpulkan dari Amuthprakarn, Phetchaburi, Nakhon Pathom, dan Kanchanaburi. Delapan belas isolat ragi dikumpulkan dan lima strain diidentifikasi sebagai apiculata Kloeckera apiculata, Kloeckera japonica, Candida krusei, Candida valida dan Candida tropicalis. Serta mempelajari struktur morfologi ragi tersebut di bawah mikroskop elektron (SEM) dan menemukan bahwa sel Kloeckera apiculata dan Kloeckera japonica  agak kecil dan bulat atau apiculated sedangkan bentuk sel Candida krusei, Candida valida dan C. tropicalis lebih besar dan oval memanjang.

 Latar belakang

Buah lontar atau sawit Palmyrah adalah jenis kelapa sawit dalam keluarga Borassus flabillier Linn. Yang biasanya ditemukan di berbagai provinsi di Thailand termasuk Phetchaburi, Songkhla, Supanburi, Ayudthaya, Pitsanulok, Nakhon Pathom dan Kanchanaburi. Sebuah kelapa tuak matang berwarna ungu gelap sampai hitam dan berserat seperti pulp atau Mesocarp dengan daging berwarna kuning. Selain itu, ada sirup menyebar dalam buah dengan sekitar 3,5 Brix dan kisaran pH 5-6 yang merupakan kondisi yang diinginkan bagi pertumbuhan ragi. Umumnya, orang Thailand membuat makanan penutup khas disebut Khanom Tan dengan menggunakan kelapa matang tuak tepat setelah dipanen, dan kulit dikupas, lalu meremasnya untuk mendapatkan jus untuk membuat kue tuak. Ragi sawit flora asli di jus akan menyebabkan fermentasi dan membuat bungkil kelapa ragi, lembut dan kenyal. Dari laporan sebelumnya, ditemukan bahwa Ragi adalah flora normal pada anggur kelapa sawit, minyak sawit, palmyrah atau tuak dan kelapa sawit raphia dan terutama dalam genus Sacccharomyces. Selain itu, genera lain termasuk Kloeckera, Pichia, Candida  dan Endomycopsis juga ditemukan.

 Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki ragi buah lontar Thailand di wilayah Phetchaburi, Samuthprakarn, Kanchanaburi dan propinsi Nakhon Pathom. Ragi yang pertama terisolasi dan kemudian diidentifikasi berdasarkan profil biokimia dengan sistem galeri API dan karakteristik morfologi di bawah Scanning Elektron Mikroskop (SEM).

 Bahan dan Metode

Contoh koleksi Sampel dewasa tuak kelapa dikumpulkan dari Phetchaburi Samuthprakarn, Kanchanaburi, dan Nakhon Pathom provinsi di Thailand dan
disimpan dalam kantong steril di 10o C.

Isolasi dan Identifikasi

Ragi terisolasi dibudidayakan di Ragi Malt agar (1,0% glukosa, 0,3% ekstrak malt, 0,5% pepton, ekstrak ragi 0,3%, agar-agar 1,5%) yang pH sebelum 3,7-3,8. diinkubasi pada 30 ° C selama 48 jam, dan koloni single yang baik diisolasi dan dipelihara pada agar-agar miring Yeast Malt pada 4o C sampai digunakan. Mengetes biokimia dari jenis ragi terpilih  dengan cara fermentasi Perbedaan sumber karbon menggunakan sistem C ID32 (bioMérieux, Perancis). Setelah diinkubasi pada suhu 30o C selama 24 dan 48 jam, perubahan dalam media diamati dan identifikasi dengan menggunakan Apident perangkat lunak.

Morfologi

Strain 48-h ragi lama tumbuh di YM agar-agar dikarakterisasi untuk morfologi sel di bawah SEM (JSM-6400, Ltd Jepang, JEOL). Sel-sel ragi disusun untuk pengamatan SEM berikut metode yang dijelaskan oleh Bozzola dan Russell.

 Hasil dan Diskusi

Isolasi dan identifikasi ragi dari tuak kelapa matang dilakukan. Delapan belas
ragi isolat dikumpulkan dan diidentifikasi sebagai lima strain yaitu Kloeckera apiculata, Kloeckera japonica, Candida krusei, Candida valida dan Candida tropicalis.

  • Empat ragi strain termasuk Kloeckera apiculata, Candida krusei, Candida valida dan Kloeckera japonica yang ditemukan di buah lontar tua di provinsi Samutprakarn
  • Tiga jenis termasuk Kloeckera apiculata, Candida krusei dan Kloeckera japonica ditemukan di provinsi Petchaburi.
  • Satu strain Candida tropicalis ditemukan di propinsi Karnchanaburi
  • Dua strain termasuk Candida tropicalis dan Candida krusei ditemukan di propinsi Nakorn Prathom  .

Menurut morfologi koloni di media padat , ditemukan bahwa

a. Kloeckera apiculata berwarna merah muda keputihan dengan bentuk melingkar, umbonate dan tepinya bundar (entire). Diameter koloni tunggal sekitar 0,3 cm (Gbr. 1). Juga, di bawah SEM, itu ditemukan bahwa sel-sel ragi yang lemon-seperti bentuk atau apiculate. (Gbr. 6)

  

b. Selain itu, koloni tunggal Candida krusei memiliki warna putih-krem, bentuknya tidak beraturan dengan mengangkat dan lobately tepi. Diameter koloni sekitar 0,5 cm (Gbr. 2) dan sel-sel di bawah SEM berbentuk oval untuk memanjang (Gbr. 7)

 

c.  Koloni tunggal valida Candida memiliki warna putih, circular bentuk, pulvinate dan tepi secara keseluruhan, diameter sekitar 0,5 cm (Gambar 3) dan sel-sel di bawah SEM berbentuk oval memanjang. (Gbr. 8)

d.  Juga, ditemukan bahwa japonica Kloeckera koloni memiliki bentuk warna merah muda putih melingkar, umbonate dan seluruh tepi. Garis tengah sekitar 0,3 cm (Gbr. 4) dan sel-sel di bawah SEM adalah bentuk lemon-suka atau apiculate (Gbr. 9)

e. sedangkan koloni tunggal tropicalis Candida telah putih-krem, berbentuk lingkaran, pulvinate danseluruh tepi. Diameter koloni tunggal kira-kira 0,2 cm (Gbr. 5). Sel-sel di bawah SEM berbentuk oval memanjang. (Gbr. 10)

Kesimpulan
Delapan belas isolat ragi dikumpulkan dari buah lontar dewasa tumbuh di wilayah empat provinsi termasuk Samuthprakarn, Phetchaburi,
Kanchanaburi dan Nakhon Pathom dan lima strain diidentifikasi sebagai  Kloeckera apiculata, Kloeckera japonica, Candida krusei, Candida valida dan Candida tropicalis. Selain itu, ditemukan di bawah  SEM bahwa  Kloeckera apiculata dan Kloeckera japonica memiliki bentuk seperti lemon atau apiculate sedangkan Candida krusei, Candida valida dan Candida tropicalis berbentuk oval yang memanjang. Ucapan Terima Kasih Penelitian ini didukung oleh Pascapanen Pusat Inovasi Teknologi: Khon Kaen Universitas, dan Mesin Pertanian dan Pascapanen Research Center, Khon Kaen Universitas.

References

1. Fox JJ. Harvest of the Palm. London, Harvard University Press 1977.

2. Whitmore TC. Palms of Malaya. New York, Oxford University Press 1979.

3. Kovoor A. The Palmyra Palm: Potential and Perspectives. Food and Agriculture

Organization of the United Nation, Rome 1983.

4. Kularatnam PK. Some effects about the Palmyra palm (Tan) and its future importance.

Food 1971, 4:19-23. 5. Rojanapaiboon T. Thai Dessert Recipe (in

Thai). Bangkok, General book Center 1989.

6. Okafor N. Palm wine yeasts from parts of Nigeria. J. Sci. Food Agric. 1972, 23:1399-

1407.

7. Bozzola JJ, Russell LD. Electron Microscopy: Principles and Techniques for

Biologists, 2nd edition. Boston, Jones and Bartlett Publishers 1999.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Juni 2011 in Mikrobiologi

 

Tag: , , , ,

TEKNIK BIAKAN MURNI


Secara kebetulan seorang para Jerman melihat bahwa koloni yang tumbuh pada kentang yang telah direbus pada akhirnya dapat menemukan jalan untuk memisah menjadi individu-individu. Caranya; mereka mengembangkan media spesifik untuk menumbuhkan mikroorganisma. Media adalah substansi yang memenuhi kebutuhan nutrisi mikroorganisma. Koch dan koleganyanya juga menunjukkan bahwa senyawa dari alga yang disebut agar dapat membuat media menjadi padat. Richard J.Petri (1852 – 1921) membuat piringan kaca bertutup untuk menempatkan media agar alat tersebut selanjutnya disebut Petri dish yang masih digunakan sampai sekarang. Pada tahun 1892, dengan menggunakan teknik biakan murni Koch dan anggotanya menemukan agen-agen penyebab typus, dipteri, tetanus, pneumonia dan lain sebagainya. Koch mengenalkan penggunaan binatang model untuk penyakit manusia dengan cara menginjeksikan bakteri ke dalam menit, kelinci, babi atau domba. Ia bahkan menempelkan kamera pada mikroskopnya untuk mengambil gambar dan menggunakannya sebagai bukti untuk menghilangkan keraguan.
Postulat Koch
Pada tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch
yaitu:
1. Mikroorganisma tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.
2. Mikroorganisma dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan penyakit.
4. Mikroorganisma tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut.
Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri penyebab berbagai penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus, adanya bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit tertentu yang ditimbulkan oleh lebih dari 1 mikroorganisma memerlukan modifikasi dari postulat Koch. Pada tahun 1892 Dimitri Ivanovski menunjukkan bahwa agen yang menyebabkan penyakit mosaik pada tembakau dapat ditularkan melalui ekstrak tanaman yang sakit. Ekstrak terebut disaring dengan filter yang ditemukan oleh kawan-kawan Pasteur dimana filter tersebut diketahui dapat menyaring bakteri. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa agen tersebut mempunyai ukuran yang jauh lebih kecil dari bakteri. Yellow fever merupakan penyakit pertama pada manusia yang diketahui disebabkan oleh virus.
Pada tahun 1900 seorang ahli bedah bernama Walter reed (1851-1902) dengan menggunakan manusia sebagai volunteer membuktikan bahwa virus tersebut dibawa oleh nyamuk tertentu lainnya membawa protozoa penyebab malaria. Salah satu cara penting untuk mencegah penyakit tersebut adalah mengurus air yang tergenang yang digunakan nyamuk untuk tempat berkembang biak.

copy from file Nunuk Priyani

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2011 in Mikrobiologi

 

Tag: ,

Struktur DNA


ASAM NUKLEAT

Asam nukleat merupakan polimer, polimer yang tersusun dari monomer-monomer. Monomernya adalah nukleotida. Nukleotida terdiri dari basa nitrogen, gula, dan fosfat. Basa nitrogen dan gula disebut nukleosida. Basa nitrogen, gula, dan fosfat disebut satu nukleotida. Basa nitrogen terdiri dari purin dan pirimidin. Gula terdiri dari ribosa dan deoksiribosa. Fosfat terikat pada atom karbon 5 (C5) disebut ujung 5’ atau phosfat. Ikatan yang menghubungkan fosfat dan hidroksil adalah ikatan fosfodiester. Basa terikat pada atom karbon 1 (C1). Atom karbon 3 (C3) merupakan hidroksil atau ujung 3’. Fosfat dan gula merupakan back bone atau tulang punggung. Asam nukleat terdiri dari DNA dan RNA.

Gula

Basa Nitrogen

Purin memiliki dua cincin, sedangkan pirimidin hanya satu. Adenin berikatan dua rangkap dengan timin. Guanin berikatan tiga rangkap dengan citosin.

Basa-Basa DNA dan RNA

PURIN

 

Nukleosida dan Nukleotida

Struktur Kimia DNA dan RNA

Nukleosida

Stabilisasi DNA – Pasangan Basa Komplemen

Double helix bersifat antiparalel (sejajar berlawanan arah) dengan diameter 2,0 nm; periode 10 basa perputaran untuk lekukan besar, untuk lekukan kecil 3 basa; 3,4 nm perputaran. Paralel karena setiap basa berpasangan.

Pada eukariotik, kromosom DNA memelintir pada protein yang disebut Histon, lalu memelintir lebih padat lalu memelintir lebih padat lagi membentuk kromosom. Sehingga DNA dan protein menyusun kromosom. Sedangkan pada prokariotik, kromosomnya satu, di mana kromosomnya adalah DNA itu sendiri karena tidak terdapat protein. Satu gen merupakan sepotong DNA, sepotong DNA ini jika ditranskripsi dan ditranslasi menghasilkan protein. Satu gen sama dengan satu protein. Satu gen mengandung 1500 basa. DNA berukuran 0,2 nm atau 10-9.

DNA Stabilisasi-Tumpukan Basa

Warna biru adalah basa nitrogen, warna merah adalah gula, warna kuning adalah fosfat.

Stabilisasi DNA –Ikatan-H antara pasangan basa DNA

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2011 in Mikrobiologi

 

Tag: , , , , , , ,

Perlukah Mikrobia Dikendalikan


Mikroba perlu dikendalikan karena mikroba itu ukurannya sangat renik sehingga sulit untuk membedakannya. Untuk membedakannya,  maka perlu mematikan mikroba yang tak diinginkan, dan menumbuhkan mikroba yang diinginkan. Mencegah lebih baik karena jika sudah terinfeksi bukan hanya mikroba yang mati tap jaringan lain mengalami kerusakan.

Beberapa istilah

  1. Biosida merupakan suatu senyawa yang digunakan untuk membunuh semua makhluk hidup secara biologi
  2. Germisida merupakan suatu senyawa yang digunakan untuk membunuh kuman (merusak dinding sel)
  3. Bakteriostasis yaitu bahan kimia yang diberikan pada suatu bahan pangan yang terkena bakteri yang hanya menghambat pertumbuhan tapi tidak mati dengan cara menginaktivasi enzim polimerase. Misalnya ikan yang mengandung bakteri disimpan di freezer, bakteri tersebut akan in aktif (sintesis DNAnya terhambat). Namun jika dikeluarkan dari freezer, ikan tersebut membusuk setelah 4 jam sesudah dikeluarkan
  4. Bakteriosida yaitu membunuh bakteri
  5. Asepsis yaitu tidak ada pertumbuhan
  6. Sterilisasi yaitu menghancurkan seluruh sel hidup termasuk endospora
  7. Desinfeksi yaitu menghancurkan sel-sel yang hidup
  8. Antisepsi yaitu menginfeksi jaringan hidup. Misalnya yang terdapat pada sabun mandi
  9. Sepsis yaitu merujuk pada kontaminasi mikroba
  10. Antiseptik yaitu membunuh kuman pada sutu tempat

Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan yaitu jumlah mikroba, pengaruh lingkungan, waktu pendedahan (waktu yang digunakan untuk pemberian bahan kimia), dan karakteristik mikroba.

Metode yang digunakan untuk pengendalian yaitu secara fisik, kimia, dan biologi.

Secara Fisika

  1. Filtrasi yaitu pengendalian dengan menggunakan saringan yang terbentuk dari kuarsa yang dapat menyaring bakteri yang berukuran hingga 8-0,2 mm. filtrasi digunakan pada vaksin, udara yang difiltrasi, penggunaan AC plasmacluster, panas kering (ose), oven, dan panas lembab dengan menggunakan autoklaf atau boiling (mendidihkan).
  2. Pasteurisasi, misalnya susu dipateurisasi pada suhu 17⁰C selama 15 detik
  3. Pendingin dengan suhu -20⁰C sampai -70⁰C dan bisa tahan 3 tahun.
  4. Radiasi UV yang biasa ditemukan di depot air minum isi ulang yang memakai 260 nm UV bisa membunuhkuman (DNAnya akan hancur), dikamar operasi (sebelum operasi, kamar tersebut diradiasi UV untuk membunuh kuman), dan air yang disimpan didestilasi
  5. Radiasi ionisasi digunakan pada bahan atau alat yang tidak dapat disterilisasi. Radiasi ionisasi digunakan saat rontgen (namun sel-sel di tubuh kita banyak yang mati)

 

1                                 2                               3                            4

5

Secara kimia

  1. Halogen. Kelompok halogen yaitu klorin, iodin, fluorin (gas berbahaya), dan brominen (gas berbahaya). Iodin yang dilarutkan dalam akuades (betadine). Iodin yang dilarutkan dalam alkohol (iodin). Klorin dapat digunakan di tangan, larutan, dan permukaan barang mainan. Klorin memiliki pH 1 hingga 7. Klorin tidak stabil jika terkena cahaya. Iodin dapat digunakan di tangan, larutan, instrumen (alat), dan permukaan barang namun bisa merusak.
  2. Alkohol 70%-90% dapat digunakan di tangan, instrumen, dan permukaan alat.
  3. Detergen. Detergen mengandung NaOH terdapat di sabun dan cat. Sabun dapat merusak phospolipid bakteri atau kuman.
  4. Phenol. Phenol ini rumit penggunaannya

Secara biologi dengan antibiotik. Antibiotik merupakan bahan kimia yang dihasilkan oleh mikroba untuk membunuh mikroba lain pada makhluk hidup. Antibiotik ini membunuh targetnya di dalam sel. Arang yang tidak menjadi debu ditumbuk lalu diminum dapat menyerap gas. Luka kecil dapat diobati cepat dengan air ludah, karena air ludah mengandung lisozim.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 April 2011 in Mikrobiologi

 

Tag: , , , ,