RSS

Arsip Kategori: Pembelajaran

Filosofi – Sang Reseptor


Lidah berfungsi merasakan banyak rasa. Manis, asin, asam, pahit. Bayangkan jika lidah tidak mampu merasakan segala rasa. Maka tidak mengenakkan. Bagaimana mimik wajah jika merasakan manis?

Bagaimana mimik wajah jika merasakan asin?

Bagaimana mimik wajah jika merasakan asam?

Bagaimana mimik wajah jika merasakan pahit?

Apakah ini akan berlaku sama dengan proses penerimaan dari beberapa tipe karakter orang?? Ya, tentu

Dan apakah hidup begitu baik jika selalu berada di zona Manis?? Tentu menginginkan yang lain, begitupun rasa yang lain..nggak ada puasnya yah…
Hidup berfungsi merasakan banyak rasa dari beberapa tipe karakter orang. Kenapa mesti begitu!!!, karena sebagai tempat pembelajaran..

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Februari 2017 in Pembelajaran

 

Tag: , ,

Kecemasan (Anxiety)


Cemas dalam bahasa latin “anxius” dan dalam bahasa Jerman “angst” kemudian menjadi “anxiety” yang berarti kecemasan, merupakan suatu kata yang dipergunakan oleh Freud untuk menggambarkan suatu efek negatif dan keterangsangan. Cemas mengandung arti pengalaman psikis yang biasa  dan wajar, yang pernah dialami setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi sebaik–baiknya (Hawari, 2000 dalam Trisnaning 2012).

Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah gangguan alam perasaan (affectiv) yang ditandai dengan  perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (RealityTesting Ability), kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas–batas normal. Ada segi yang disadari dari kecemasan itu sendiri seperti rasa takut, tidak berdaya, terkejut, rasa berdosa atau terancam, selain itu juga segi – segi yang terjadi di luar kesadaran dan tidak dapat menghindari perasaan yang tidak menyenangkan (Jadman, 2001 dalam Trisnaning 2012).

Cemas atau ansietas merupakan reaksi emosional yang timbul oleh penyebab yang tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan merasa terancam.Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya.Cemas berbeda dengan takut, seseorang yang mengalami kecemasan tidak dapat mengidentifikasikan ancaman.Cemas dapat terjadi tanpa rasa takut namun ketakutan tidak terjadi tanpa kecemasan (Kaplan HI & Sadock BJ, 1998 dalam Trisnaning 2012).

Kecemasan adalah perasaan takut dan khawatir yang sangat tidak menyenangkan, tersebar, dan tidak jelas (King, 2010).

Kecemasan merupakan suatu respon terhadap keadaan stress, seperti putusnya suatu hubungan yang penting atau mengalami peristiwa yang mengguncang jiwa.Kecemasan merupakan suatu reaksi terhadap dorongan seksual atau dorongan agresif yang tertekan, yang bisa mengancam pertahanan psikis yang secara normal mengendalikan dorongan tersebut.Kecemasan menunjukkan adanya pertentangan psikis.Kecemasan merupakan salah satu bagian dari respon yang penting dalam mempertahankan diri dari ancaman dunia luar (Junaidi, 2012).

Teori Presdisposisi dan Teori Presipitasi Kecemasan

Beberapa teori yang mengemukakan faktor pendukung terjadinya kecemasan menurut Stuart dan Sundeen (1998) dalam Trisnaning (2012) antara lain:

  1. Teori Psikoanalitik

Menurut pandangan psikoanalitic, kecemasan terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara emosional elemen kepribadian yaitu id, egodan super ego.Id mewakili insting, super ego mewakili hati nurani, sedangkan ego mewakili konflik yang terjadi antara kedua elemen yang bertentangan.Dan timbulnya merupakan upaya dalam memberikan bahaya pada elemen ego.

2. Teori Interpersonal

Menurut pandangan interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.

3. Teori Behaviour

Berdasarkan teori behaviour (perilaku), kecemasan merupakan produk frustrasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Teori Prespektif keluarga

Kajian keluarga menunjukkan pola interaksi yang terjadi didalam keluarga kecemasan menunjukkan adanya interaksi yang tidak adaptif dalam sistem keluarga.

5. Teori Prespektif Biologis

Kesehatan umum seseorang menurut pandangan biologis merupakan faktor predisposisi timbulnya kecemasan.

Menurut Stuart & Sundeen (1998) dalam Trisnaning (2012) faktor pencetus (presipitasi) yang menyebabkan terjadinya kecemasan antara lain:

  1. Ancaman terhadap Integritas biologi seperti:

a) Penyakit

Berbagai penyakit fisik terutama yang kronis yang mengakibatkan invaliditas dapat menyebabkan stres pada diri seseorang, misalnya : penyakit jantung, hati, kanker, stroke dan HIV/AIDS.

b) Trauma fisik

c) Pembedahan

2. Ancaman terhadap Konsep Diri seperti:

Proses kehilangan, perubahan peran, perubahan lingkungan, perubahan hubungan dan Status sosial ekonomi.

Suryabrata (2013) memaparkan tiga macam kecemasan sesuai definisi yang dicetuskan Freud, yaitu:

  1. Kecemasan realistis

Kecemasan ini yang paling pokok, merupakan kecemasan atau rasa takut akan bahaya-bahaya di dunia luar.

  1. Kecemasan neurotis

Kecemasan neurotis adalah kecemasan jika instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum.

  1. Kecemasan moral atau perasaan berdosa

Kecemasan moral atau kecemasan kata hati. Kecemasan moral ini mempunyai dasar dalam realitas

Faktor yang Memengaruhi Kecemasan

Menurut Stuart dan Sundeen (1998) dalam Trisnaning (2012) tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait meliputi hal berikut:

  1. Potensi stresor

Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.

2. Maturasi (kematangan)

Individu yang matang yaitu yang memiliki kematangan kepribadian sehingga akan lebih sukar mengalami gangguan akibat stres, sebab individu yang matang mempunyai daya adaptasi yang besar terhadap stressor yang timbul. Sebaliknya individu yang berkepribadian tidak matang akan bergantung dan peka terhadap rangsangan sehingga sangat mudah mengalami gangguan akibat adanya stres.

3. Status pendidikan dan status ekonomi

Status pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang menyebabkan orang tersebut mengalami stres dibanding dengan mereka yang status pendidikan dan status ekonomi yang tinggi.

4. Tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah stres.

5.Keadaan fisik

Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, penyakit badan, operasi, cacat badan lebih mudah mengalami stres. Disamping itu orang yang mengalami kelelahan fisik juga akan lebih mudah mengalami stres.

6. Tipe kepribadian

Individu dengan tipe kepribadian tipe A lebih mudah mengalami gangguan akibat adanya stres dari individu dengan kepribadian B. Adapun ciri–ciri individu dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa buru–buru waktu, sangat setia (berlebihan) terhadap pekerjaan, agresif, mudah gelisah, tidak dapat tenang dan diam, mudah bermusuhan, mudah tersinggung, otot–otot mudah tegang. Sedangkan individu dengan kepribadian tipe B mempunyai ciri–ciri yang berlawanan dengan individu kepribadian tipe A.

7. Sosial Budaya

Cara hidup individu di masyarakat yang sangat mempengaruhi pada timbulnya stres. Individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur dan mempunyai falsafat hidup yang jelas maka pada umumnya lebih sukarmengalami stres. Demikian juga keyakinan agama akan mempengaruhi timbulnya stres.

8. Lingkungan atau situasi

Individu yang tinggal pada lingkungan yang dianggap asing akan lebih mudah mangalami stres.

9. Usia

Ada yang berpendapat bahwa faktor usia muda lebih mudah mengalami stres dari pada usia tua, tetapi ada yang berpendapat sebaliknya.

10. Jenis kelamin

Umumnya wanita lebih mudah mengalami stres, tetapi usia harapan hidup wanita lebih tinggi dari pada pria.

Tingkat Kecemasan

Menurut Stuart dan Sundeen (1998) dalam Trisnaning 2012 membagi ansietas ke dalam 4 tingkatan sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu :

  1. Ansietas ringan

Ansietas ini adalah ansietas yang normal yang memotivasi individu dari hari ke hari sehingga dapat meningkatkan kesadaran individu serta mempertajam perasaannya.Ansietas pada tahap ini dipandang penting dan konstruktif.

2. Ansietas Sedang

Pada tahap ini lapangan persepsi individu menyempit, seluruh indera dipusatkan pada penyebab ansietas sehingga perhatuan terhadap rangsangan dari lingkungannya berkurang.

3. Ansietas Berat

Lapangan persepsi menyempit, individu bervokus pada hal–halyang  kecil, sehingga individu tidak mampu memecahkan masalahnya, dan terjadi gangguan fungsional.

4. Panik

Merupakan bentuk ansietas yang ekstrim, terjadi disorganisasi dan dapat membahayakan dirinya.Individu tidak dapat bertindak, agitasi atauhiperaktif.Ansietas tidak dapat langsung dilihat, tetapi dikomunikasikan melalui perilaku klien/individu, seperti tekanan darah yang meningkat, nadi cepat, mulut kering, menggigil, sering kencing dan pening.

Menurut Kusumawati (2010), tingkat kecemasan yaitu:

Kecemasan ringan

  • Individu waspada
  • Lapang persepsi luas
  • Menajamkan indra
  • Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif
  • Menghasilkan pertumbuhan dan kreatif                                                                                     Kecemasan sedang
  • Individu hanya focus pada pikiran yang menjadi perhatiannya
  • Terjadi penyempitan lapang persepsi
  • Masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain                                              Kecemasan berat
  • Lapangan persepsi individu sangat sempit
  • Perhatian hanya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berpikir tentang hal-hal yang lain.
  • Seluruh perilaku dimasukkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan untuk focus pada area lain                                                                                    Panik
  • Individu kehilangan kendali diri dan detail
  • Detil perhatian hilang
  • Tidak bisa melakukan apa pun meskipun dengan perintah
  • Terjadi peningkatan aktivitas motorik
  • Berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain
  • Penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif
  • Bisanya disertai dengan disorganisasi kepribadian

Kriteria serangan panic adalah palpitasi, berkeringat, gemetar atau goyah, sesak napas, merasa tersedak, nyeri dada, mual dan distress abdomen, pening, derealisasi atau depersonalisasi, ketakutan kehilangan kendali diri, ketakutan mati dan parestesia.

Gangguan Kecemasan

Menurut King (2010) gangguan kecemasan, terdiri:

  1. Gangguan Panik

Serangan panic yang terus berulang dan ditandai oleh kemunculan yang tiba-tiba akan perasaan khawatir atau perasaan terteror menjadi ciri gangguan panik.

  1. Gangguan Fobia

Gangguan fobia melibatkan ketakutan yang berlebihan, irasional terhadap objek tertentu.

  1. Gangguan Obsesif-Kompulsif

Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan kecemasan di mana individu memiliki pikiran-pikiran yang menimbulkan kecemasan yang tidak akan hilang.

  1. Gangguan Stres Pascatrauma

Gangguan stress pascatrauma adalah gangguan kecemasan yang berkembang karena paparan terhadap kejadian traumatis, situasi yang sangat menekan, penyiksaan, dan bencana alam ataupun bencana akibat perilaku manusia.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2017 in Pembelajaran, Uncategorized

 

Tag: ,

PRINSIP PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

PRINSIP PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

PRINSIP KURIKULUM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Desember 2015 in Pembelajaran

 

Tag:

Kreasi Prakarya IPS2 IPA1 MAN 2 SINJAI TIMUR


Kerajinan bahan lunak merupakan kerajinan yang mudah dibentuk dan bahannya mudah ditemukan. Kali ini peserta didik memilih kerajinan bahan lunak dari tanah liat dengan teknik pilinan dan kerajinan yang terbuat dari lilin dengan teknik cetak mainan anak dan cetakan kue.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 September 2014 in Pembelajaran

 

Tag: , , ,

Ciri Makhluk Hidup (memerlukan nutrisi)


BUKU 1 CMH 1.docx

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2012 in Pembelajaran, Uncategorized

 

Tag: ,

Apa sih minat itu????


Untuk dapat mengetahui keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar, seluruh faktor-fakor yang berhubungan dengan guru dan siswa harus dapat diperhatikan. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah laku siswa sebagai timbal balik dari hasil sebuah pengajaran. Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan ketertarikan siswa terhadap pelajaran itu,  atau sebaliknya siswa merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat.

Menurut Taufani (2008:39) bahwa minat merupakan suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari atau mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat bukan bawaan dari lahir, melainkan dapat dipengaruhi oleh bakat. Minat diciptakan atau dibina agar tumbuh dan terasa sehingga menjadi kebiasaan.  Menurut Slameto (2010:180) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, yaitu kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus-menerus dan disertai dengan rasa senang. Minat dapat menjadi sebab suatu kegiatan dan sebagai hasil dari keikutsertaan dalam suatu kegiatan. Tidak adanya minat dapat mengakibatkan siswa tidak menyukai pelajaran yang ada sehingga sulit berkonsentrasi dan sulit mengerti isi mata pelajaran dan akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar. Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada yang lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap objek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap objek tersebut.

 

  1. 1.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat

 

 

Menurut Taufani (2008:38), ada tiga faktor yang mendasari timbulnya minat yaitu:

  1. Faktor dorongan dalam, yaitu dorongan dari individu itu sendiri, sehingga timbul minat untuk melakukan aktivitas atau tindakan tertentu untuk memenuhinya. Misalnya, dorongan untuk belajar dan menimbulkan minat untuk belajar.
  2. Faktor motivasi sosial, yaitu faktor untuk melakukan suatu aktivitas agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungannya. Minat ini merupakan semacam kompromi pihak individu dengan lingkungan sosialnya. Misalnya, minat pada studi karena ingin mendapatkan penghargaan dari orangtuanya.
  3. Faktor emosional, yakni minat erat hubungannya dengan emosi karena faktor emosional selalu menyertai seseorang dalam berhubungan dengan objek minatnya. Kesuksesan seseorang pada suatu aktivitas disebabkan karena aktivitas tersebut menimbulkan perasaan suka atau puas, sedangkan kegagalan akan menimbulkan perasaan tidak senang dan mengurangi minat seseorang terhadap kegiatan yang bersangkutan.

Agar siswa memiliki minat untuk belajar, guru harus berusaha membangkitkan minat siswa agar proses belajar mengajar yang efektif tercipta di dalam kelas dan siswa mencapai suatu tujuan sebagai hasil dari belajarnya.

Proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Faktor-faktor untuk membangkitkan minat belajar siswa melalui peran guru menurut Usman (dalam Aritonang, 2008), yaitu:

  1. Guru sebagai demonstrator, yaitu (a) menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan, (b) harus belajar terus menerus sehingga kaya dengan ilmu pengetahuan, dan (c) mampu dan terampil dalam merumuskan standar kompetensi, memahami kurikulum, memberikan informasi kepada kelas, memotivasi siswa untuk belajar, dan menguasai serta mampu melaksanakan keterampilan-keterampilan mengajar.
  2. Guru sebagai pengelola kelas, yaitu (a) dapat memelihara fisik kelasnya,      (b) membimbing pengalaman-pengalaman siswa sehari-hari kearah self directed behavior, dan (c) menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengurangi ketergantungannya pada guru, dan (d) mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal, dan              (e) mampu mempergunakan pengetahuan teori belajar mengajar dan teori perkembangan
  3. Guru sebagai mediator dan fasilitator, yaitu  (a) memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang media pendidikan, (b) memiliki keterampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media dengan baik, (c) terampil mempergunakan pengetahuan berinteraksi dan berkomunikasi, dan          (d) mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar
  4. Guru sebagai evaluator, yaitu (a) mampu dan terampil melaksanakan penilaian, (b) terus-menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai siswa dari waktu ke waktu, dan (c) dapat mengklasifikasikan kelompok siswa yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya.

Menurut Aritonang (2008), bahwa faktor-faktor yang membuat siswa berminat belajar yaitu (1) cara mengajar guru, (2) karakter guru, (3) suasana kelas tenang dan nyaman, dan (4) fasilitas belajar yang digunakan. Untuk membangkitkan minat belajar siswa, upaya yang harus dilakukan oleh guru yaitu:

  1. Faktor cara mengajar guru, yaitu peran yang harus dimiliki dalam hal cara mengajar guru yaitu guru sebagai demonstrator dan guru sebagai evaluator. Adapun langkah-langkah membangkitkan minat belajar siswa sesuai dengan peran tersebut yaitu:
    1. Menarik perhatian siswa, perhatian siswa muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu dapat dirangsang melalui hal-hal yang baru.
    2. Membuat tujuan yang jelas, setelah siswa tertarik untuk belajar dengan menjelaskan kepada siswa kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai. Dengan adanya KD yang jelas siswa akan berusaha untuk mencapai KD tersebut. Adapun tujuan yang jelas dapat dilakukan dengan cara:        (1) memberikan alasan yang kuat mengapa siswa harus melakukan sesuatu sehubungan dengan KD tersebut, (2) menghubungkan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa, (3) menjelaskan harapan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan dan saat memulai mengajar, (4) menggunakan tanda-tanda, bahasa tubuh yang menyakinkan, dan (5) semangat yang luar biasa terhadap apa yang diajarkan.
    3. Mengakhiri pelajaran dengan berkesan, agar materi pelajaran yang telah disampaikan akan teringat terus serta siswa akan mempelajarinya, guru harus mengakhiri pelajaran dengan berkesan, yaitu (1) menyediakan waktu untuk menutup pelajaran, (2) tekankan pada siswa untuk hening selama beberapa detik guna mengendapkan informasi yang baru saja diterima, (3) meminta siswa menuliskan semua yang sudah mereka pelajari, (4) menugaskan siswa membuat ringkasan, dan (5) mengaitkan kegiatan penutup dengan kegiatan pembuka.
    4. Faktor karakter guru, yaitu karakter guru yang dapat membangkitkan minat belajar siswa yaitu sabar, memiliki 3 S (senyum, sapa, santun), menghargai kekurangan siswa, adil, baik, disiplin, tidak menakuti atau mengancam siswa, dan memiliki semangat.
    5. Faktor suasana kelas yang nyaman dan tenang, yaitu lingkungan kelas yang tenang dan nyaman sangat merangsang siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang proses belajar mengajar. Karena itu guru harus mengelola kelas dengan baik.
    6. Faktor fasilitas belajar, yaitu belajar yang efektif harus dimulai dengan pengalaman langsung dan menuju ke pengalaman yang lebih abstrak. Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran daripada siswa belajar tanpa dibantu dengan alat pengajaran. Fasilitas belajar misalnya menggunakan kaset, televisi, papan tulis, OHP, dan projektor.

Aspek minat terdiri atas aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu objek dan berpusat pada manfaat dari objek tersebut. Aspek afektif tampak rasa suka atau tidak senang terhadap objek tersebut (Taufani, 2008:39). Dapat disimpulkan bahwa minat terhadap mata pelajaran biologi yang dimiliki seseorang bukan bawaan sejak lahir, tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap. Dengan kata lain, jika proses penilaian kognitif dan afektif seseorang terhadap objek minat adalah positif maka akan menghasilkan sikap yang positif dan dapat menimbulkan minat.

Menurut Safari (dalam Herlina, 2010:20), bahwa untuk mengetahui berapa besar minat belajar siswa, dapat diukur melalui:

  1. Kesukaan, pada umumnya individu yang suka pada sesuatu disebabkan karena adanya minat. biasanya apa yang paling disukai mudah sekali untuk diingat. Sama halnya dengan siswa yang berminat pada suatu mata pelajaran tertentu akan menyukai pelajaran itu. Kesukaan ini tampak dari kegairahan dan inisiatifnya dalam mengikuti pelajaran tersebut. Kegairahan dan inisiatif ini dapat diwujudkan dengan berbagai usaha yang dilakukan untuk menguasai ilmu pengetahuan yang terdapat dalam mata pelajaran tersebut dan tidak merasa lelah dan putus asa dalam mengembangkan pengetahuan dan selalu bersemangat, serta bergembira dalam mengerjakan tugas ataupun soal yang berkaitan dengan pelajaran yang diberikan guru di sekolah.
  2. Ketertarikan, seringkali dijumpai beberapa siswa yang merespon dan memberikan reaksi terhadap apa yang disampaikan guru pada saat proses belajar mengajar di kelas. Tanggapan yang diberikan menunjukkan apa yang disampaikan guru tersebut menarik perhatiannya, sehingga timbul rasa ingin tahu yang besar.
  3. Perhatian, semua siswa yang mempunyai minat terhadap pelajaran tertentu akan cenderung memberikan perhatian yang besar terhadap pelajaran itu. Melalui perhatiannya yang besar ini, seorang siswa akan mudah memahami inti dari pelajaran tersebut.
  4. Keterlibatan yakni keterlibatan, keuletan, dan kerja keras yang tampak melalui diri siswa menunjukkan bahwa siswa tersebut ada keterlibatannya dalam belajar di mana siswa selalu belajar lebih giat, berusaha menemukan hal-hal yang baru yang berkaitan dengan pelajaran yang diberikan guru di sekolah. Dengan demikian, siswa akan memiliki keinginan untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan diri, memperoleh kepercayaan diri, dan memiliki rasa ingin tahu.

Untuk mengetahui apakah siswa berminat dalam belajar, dapat dilihat dari beberapa indikator mengenai minat belajar. Indikator ini disusun berdasarkan aspek minat siswa. Aspek mengenai minat siswa yang dimaksud adalah kesukaan, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan. Berdasarkan aspek tersebut, Rasyid (2010:31) merumuskan indikator tentang minat belajar siswa sebagai berikut :    (1) bergairah untuk belajar, (2) tertarik pada pelajaran, (3) tertarik pada guru,     (4) mempunyai inisiatif untuk belajar, (5) kesegaran dalam belajar,                     (6) konsentrasi dalam belajar, (7) teliti dalam belajar, (8) punya kemauan dalam belajar, (9) ulet dalam belajar.

 
19 Komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2012 in Pembelajaran

 

Tag: , ,

Mengenal Tentang Kewirausahaan


MENGENAL TENTANG KEWIRAUSAHAAN

Nama  : Kamrianti Ramli

Nim     : 10B13006

 Tujuan Materi:

Adapun tujuan materi ini adalah:

  1. Menggambarkan perkembangan teori dan istilah wirausaha
  2. Memahami kewirausahaan sebagai suatu disiplin ilmu
  3. Memahami objek studi kewirausahaan
  4. Memahami hakikat kewirausahan
  5. Memahami karakteristik dan nilai-nilai kewirausahaan
  6. Menggambarkan sikap dan kepribadian kewirausahaan
  7. Memahami motif berwirausaha

Materi:

Wirausaha berasal dari kata entrepreneur merupakan seseorang yang percaya diri dalam melakukan suatu pekerjaan, memanfaatkan peluang, kreatif, dan inovatif dalam mengembangkan usahanya. Menurut Alma (2009:22) definisi wirausaha yang asal katanya adalah terjemahan dari entrepreneur. Istilah wirausaha ini berasal dari entrepreneur (bahasa Perancis) yang diterjemahkan ke dalam  bahasa Inggris dengan arti between taker atau go-between. Perkembangan teori dan istilah entrepreneur adalah sebagai berikut1:

  • Asal kata entrepreneur dari bahasa Perancis berarti between taker atau go-between
  • Abad pertengahan berarti aktor atau orang yang bertanggung jawab dalam proyek produksi berskala besar
  • Abad 17 diartikan sebagai orang yang menanggung resiko untung rugi dalam mengadakan kontrak pekerjaan dengan pemerintah dengan menggunakan fixed price
  • Tahun 1725, Richard Cantillon menyatakan entrepreneur sebagai orang yang menanggung resiko yang berbeda dengan orang yang memberi modal
  • Tahun 1797, Bedeau menyatakan wirausaha sebagai orang yang menanggung resiko, yang merencanakan, supervisi, mengorganisasi dan memiliki
  • Tahun 1803, Jean Baptist Say menyatakan adanya pemisahan antara keuntungan untuk entrepreneur dan keuntungan untuk pemilik modal
  • Tahun 1876, Francis Walker, membedakan antara orang menyediakan modal dan menerima bunga, dengan orang yang menerima keuntungan karena keberhasilannya memimpin usaha
  • Tahun 1934, Joseph Schumpeter, seorang entrepreneur adalah seorang inovator dan mengembangkan teknologi
  • Tahun 1961, David McLelland, entrepreneur adalah seorang yang energik dan membatasi resiko
  • Tahun 1964, Peter Drucker, seorang entrepreneur adalah seseorang yang mampu memanfaatkan peluang
  • Tahun 1975, Albert Shapero, seorang yang memiliki inisiatif, mengorganisir mekanis sosial dan ekonomi, dan menerima resiko kegagalan
  • Tahun 1980, Karl Vesper, seorang entrepreneur berbeda dengan seorang ahli ekonomi, psikologi, business persons, dan politicians
  • Tahun 1983, Gifford Pinchot, intrapreneur adalah seorang entrepreneur dari dalam organisasi yang sudah ada/organisasi yang sedang berjalan
  • Tahun 1985, Robert Hisrich menyatakan entrepreneur adalah proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung resiko keuangan, kejiwaan, sosial, dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan kepuasaan pribadinya.

Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang ungkin dihadapinya. Dalam konteks bisnis, menurut Thomas W. Zimmerer (dalam Suryana 2001:2), kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar. Kreativitas oleh Zimmerer diartikan sebagai kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang. Sedangkan keinovasian diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan kreatvitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk mempertinggi dan meningkatkan taraf hidup. Jadi dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang sistematis untuk menerapkan sikap kreatif dan inovasi dalam mengembangkan ide-ide baru guna menghadapi persaingan bisnis atau usaha.

Zaman dulu kewirausahaan merupakan urusan pengalaman langsung di lapangan. Padahal kewirausahaan itu bukan hanya merupakan bakat bawaan sejak lahir, namun kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan. Dipelajari melalui proses pendidikan dan diajarkan melalui proses pendidikan formal atau informal. Menurut Suyana (2009:2) bahwa “Entrepreneurship are not only born but also made” artinya kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman lapangan, tetapi juga dapat dipelajari dan diajarkan.

Seseorang yang memiliki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang menjadi entrepreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi dan belajar mengembangkan potensinya untuk menangkap peluang serta mengorganisir usahanya dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya dalam proses pendidikan kewirausahaan.

Pendidikan kewirausahaan telah diajarkan  sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen. Pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen menurut Soeharto Prawirokusumo (dalam Suryana, 2001:3) dikarenakan (1) kewirausahaan berisi “body of knowledge”  yang utuh dan nyata yaitu ada teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap, (2) kewirausahaan memiliki dua konsep yaitu posisi “venture start-up” dan “venture growth”, ini jelas tidak masuk dalam “frame work general management courses” yang memisahkan antara management dan “business ownership”, (3) kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda, (4) kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Menurut Soparman Soemahamidjaja (dalam Suryana, 2009:4) bahwa kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:

  • Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha tersebut perlu perenungan, koreksi yang kemudian berulang-ulang di baca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya
  • Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala
  • Kemampuan untuk berinisiatif yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif
  • Kebiasaan berinisiatif yang melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan piranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.
  • Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal
  • Kemampuan untuk mengukur waktu dan membiasakn diri untuk selalu tepat waktu dalam segala hal tindakannya melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan
  • Kemampuan mental yang dilandasi dengan agama
  • Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun yang menyajikan

Kewirausahaan muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas, dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha. Berwirausaha menurut Meredith (dalam Suryana, 2001:7) adalah memadukan perwatakan pribadi, keuangan, dan sumber daya. Oleh karena itu, berwirausaha merupakan sebuah pekerjaan atau karier yang harus bersifat fleksibel, dan imajinatif, mampu merencanakan, mengambil resiko, mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan. Syarat berwirausaha harus memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi peluang, mengumpulkan sumber-sumber daya yang diperlukan dan bertindak untuk memperoleh keuntungan dari peluang-peluang itu. Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang memiliki perilaku inovatif dan kreatif dan pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan, dan tantangan. Ada enam hakikat penting kewirausahaan, yaitu:

  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis
  • Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
  • Kewirausahaan adalah proses penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha dan perkembangan usaha
  • Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan sesuatu yang berbeda yang bermanfaat memberikan nilai lebih
  • Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Banyak para ahli yang mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda. Geoffrey G. Meredith (dalam Suryana, 2001:8) misalnya mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut:

Ciri-ciri

Watak

  1. 1.      Percaya diri

 

  1. 2.      Berorientasi pada tugas dan hasil

 

 

 

 

  1. 3.      Pengambilan resiko

 

  1. 4.      Kepemimpinan

 

 

  1. 5.      Keorisinilan

 

  1. 6.      Berorientasi ke masa depan
Keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas, dan optimisme

Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif

Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan

Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik

Inovatif dan kreatif serta fleksibel

Pandangan ke depan, perspektif

M. Scarborough dan Thomas W. Zimmmerer (dalam Suryana, 2001:8-9) mengemukakan delapan karakteristik:

  • Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu mawas diri.
  • Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih resiko yang moderat, artinya ia selalu menghindari risiko yang rendah dan menghindari risiki yang tinggi
  • Confidence in their ability to success, yaitu percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  • Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik yang segera
  • High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik
  • Future orientation, yaitu berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan
  • Value of achievement over money, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  • Skill at organizing, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah

Arthur Kuriloff dan John M Mempil (dalam Suryana, 2001:9) mengemukakan karakteristik kewirausahaan dalam bentuk nilai-nilai dan perilaku kewirausahaan:

Values

Behavior

ü  Commitment

ü  Moderate risk

ü  Seeing opportunities

ü  Objectivity

ü  Feedback

 ü  Optimism

ü  Money

ü  Proactive management

  • Staying with a task until finished
  • Not gambling,cut choosing a middle course
  • And gasping them
  • Observing reality clearly
  •  Analyzing timely performance data to guide activity
  • Showing confidence in novel situations
  • Seeing it as resorce and not an end in itself
  • Managing through reality based on forward planning

Beberapa ciri kewirausahaan secara ringkas dikemukakan oleh Vermon A musselman, Wasty Sumanto dan Geoffrey Meredith (dalam Suryana, 2009:10) yaitu: (1) keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri, (2) kemauan untuk mengambil risiko, (3) kemampuan untuk belajar dari pengalaman, (4) memotivasi diri sendiri, (5) semangat untuk bersaing, (6) orientasi pada kerja keras, (7) percaya pada diri sendiri, (8) dorongan untuk berprestasi, (9) tingkat energi yang tinggi, (10) tegas, (11) yakin pada kemampuan sendiri, (12) tidak suka uluran tangan dari pemerintah/pihak lain di masyarakat, (13) tidak tergantung pada alam dan berusaha untuk tidak menyerah pada alam, (14) kepemimpinan, (15) keorisinilan, dan          (16) berorientasi ke masa depan dan penuh gagasan

M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (dalam Suryana, 2001:10) mengemukakan karakteristik kewirausahaan yang berhasil, diantaranya memiliki ciri-ciri:

  • Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas
  • Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam pandangan dan bertindak terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring
  • Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis

Secara eksplisit, Dan Steinnhoff dan John F Burgess (dalam Suryana, 2001:10) mengemukakan beberapa karakteristik yang diperlukan untuk menjadi wirausaha yang berhasil, yaitu:

  • Memiliki visi dan tujuan yang jelas
  • Bersedia menanggung risiko waktu dan uang
  • Berencana dan mengorganisir
  • Kerja keras sesuai dengan tingkat urgensinya
  • Mengembangkan hubungan dengan pelanggan, pemasok, pekerja, dan yang lainnya
  • Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan

Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi juga oleh sifat dan kepribadian seseorang. The officer of Advocacy of small Business Administration yang dikutip oleh Dan Steinhoff dan John F Burgess mengemukakan bahwa kewirausahaan yang berhasil pada umumnya memiliki sifat-sifat kepribadian sebagai berikut:

  • Thaey have the self-confidence to work independently work hard and understand that the risk taking is part of the equation for success
  • They have organization ability, can set goals, are results-oriented, and take responsibility for the results of their endeavors-good or bad
  • They are creative and seek an outlet for their creativity in an entrepreneurship
  • They enjoy challenges and find personal fulfiment in seeing their ideas through to completion

Menurut Ahmad Sanusi ada beberapa kecenderungan profil pribadi pewirausaha dan kewirausahaan yang dapat diangkat dari kegiatan sehari-hari, di antaranya:

  • Tidak menyenagi lagi hal-hal yang sudah terbiasa/tetap/sudah teratur/diatur dan jelas. Ia selalu bosan dengan kegiatan rutinitas sehingga timbul harapan-harapan dan keinginan untuk selalu berubah, ada tambahan, pengayaan, atau perbaikan mutu
  • Mulai suka memandang ke luar, berorientasi pada aspek-aspek yang lebih luas dari soal yang dihadapi untuk memperoleh peluang baru
  • Makin berani, karena merasa perlu untuk menunjukkan sikap kemandirian atau prakarsa atas nama sendiri
  • Suka bermain-main dengan daya imajinasi dan mencoba menyatakan daya kreativitas serta memperkenalkan hasil-hasilnya kepada pihak lain
  • Karena sendiri, maka ada keinginan berbeda atau maju, dan toleransi terhadap perbedaan dari pihak lain
  • Menyatakan suatu prakarsa setelah gagasan awalnya diterima dan dikembangkan, serta dapat dipertanggungjawabkan dari beberapa sudut. Prakarsa dianggap tidak final, bahkan terbuka untuk modifikasi dan perubahannya
  • Dengan kerja keras dan kemajuan tahap demi tahap yang tercapai timbul rasa percaya diri dan sikap optimisme yang lebih mendasar
  • Sikap dan perilaku kewirausahaan di atas, dijinakan/dikombinasikan dengan mempelajari keterampilan manajemen usaha dalam bentuk perencanaan dan pengembangan produk, penetrasi/pengembangan pasar, organisasi dan komunikasi perusahaan, keuangan, dan lain-lain
  • Meskipun azasnya bekerja keras, cermat dan sungguh-sungguh namun aspek risiko tidak bisa dilepaskan sampai batas yang dapat diterima
  • Dengan risiko tersebut, dibuatkanlah tekad, komitmen , dan kekukuhan hati terhadap alternatif yang dipilih
  • Berhubung yang dituju ada kemajuan yang terus menerus, maka ruang lingkup memandang pun jauh dan berdaya juang tinggi, karena sukses tidak datang tanpa dasar atau tiba-tiba
  • Adanya perluasan pasar dan pihak lain yang bersaing mendorong kemauan keras untuk membuat perencanaan lebih baik, bekerja lebih baik, untuk mencapai hasil lebih baik bahkan yang terbaik dan berbeda
  • Sikap hati-hati dan cermat mendorong kesiapan bekerja sama dengan pihak lain yang sama-sama mencari kemajuan dan keuntungan. Akan tetapi, jika perlu, ia harus ada kesiapan untuk bersaing
  • Ujian, godaan, hambatan, dan hal-hal yang tidak terduga dianggap tantangan untuknmencari berbagai ihtiar
  • Memiliki toleransi terhadap kesalahan operasional atau penilaian. Ada instrospeksi dan kesediaan, serta sikap responsif dan arif terhadap umpan balik dan saran
  • Punya kemampuan intensif dan seimbang dalam memperhatikan dan menyimak informasi dari pihak lain dengan meletakan posisi dan sikap sediri, dan mengendalikan diri sendiri terhadap sesuatu soal yang dianggap belum jelas
  • Menjaga dan memajukan nilai dan perilaku yang telah menjadi keyakinan dirinya, integritas pribadi yang mengandung citra dan harga diri, selalu bersikap adil, fair, dan sangat menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain.

Menurut Suharyadi (2007:10) bahwa sikap seorang wirausaha dapat dilihat dalam kegiatan sehari-hari yaitu:

  • Disiplin yaitu ketepatan komitmen terhadap kewirausahaan terhadap tugas dan pekerjaannya.
  • Komitmen tinggi yaitu seorang wirausahawan yang teguh menjaga komitmennya kepada konsumen akan memiliki nama baik di mata konsumen yang akhirnya wirausahawan tersebut mendapat kepercayaan dari konsumen.
  • Jujur, seorang wirausahawan harus jujur dalam hal karakteristik produk, pelayanan purnajual yang dijanjikan
  • Kreatif dan inovatif, seorang wirausahawan harus memiliki daya kreatif dan inovatif tinggi untuk menciptakan produk terbaru
  • Mandiri, sikap ini sangat mutlak dimiliki oleh seorang wirausahawan

Menurut Suryana (2001:14) ada empat nilai dengan orientasi dan ciri masing-masing yaitu:

  • Wirausaha yang berorientasi kemajuan untuk memperoleh materi, ciri-cirinya pengambil risiko, terbuka terhadap teknologi, dan mengutamakan materi
  • Wirausaha yang berorientasi pada kemajuan tetapi bukan untuk mengejar materi. Wirausaha ini hanya ingin mewujudkan rasa tanggung jawab, pelayanan, sikap positif, dan kreativitas
  • Wirausaha yang berorientasi pada materi, dengan berpatokan pada kebiasaan sudah yang ada, misalnya dalam perhitungan usaha dengan kira-kira, sering menghadap ke arah tertentu supaya berhasil
  • Wirausaha yang berorientasi pada non=materi, dengan bekerja berdasarkan kebiasaan, wirausaha model ini biasanya tergantung pada pengalaman, berhitung dengan menggunakan mistik, paham etnosentris, dan taat pada tata cara leluhur

Dari beberapa ciri kewirausahaan di atas, menurut Suryana (2001:15) ada beberapa nilai hakiki penting dari kewirausahaan yaitu:

  • Percaya diri, kepercayaan diri berpengaruh pada gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja keras, dan kegairahan berkarya
  • Berorientasi tugas dan hasil, seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah orang yang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik, dan berinisiatif
  • Keberanian mengambil risiko tergantung pada daya tarik setiap alternatif, persediaan untuk rugi, dan kemungkinan relatif untuk sukses atau gagal. Kemampuan untuk mengambil risiko ditentukan oleh keyakinan diri, kesediaan untuk menggunakan kemampuan, dan kemampuan untuk mmenilai risiko.
  • Kepemimpinan kewirausahaan memiliki sifat-sifat kepeloporan, keteladanan, tampil berbeda, lebih menonjol dan lebih menonjol, dan mampu berfikir divergen dan konvergen
  • Berorientasi ke masa depan adalah perspektif, selalu mencari peluang, tidak cepat puas dengan keberhasilan dan berpandangan jauh ke depan
  • Keorisinilan: kreativitas dan keinovasian. Kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir yang baru dan berbeda, sedangkan keinovasian adalah kemampuan untuk bertindak yang baru dan berbeda.

Wirausaha adalah seorang inovator atau individu yang mempunyai kemampuan naluriah untuk melihat benda-benda materi sedemikian rupa yang kemudian terbukti benar, mempunyai semangat dan kemampuan serta pikiran untuk menaklukkan cara berpikir yang tidak berubah, dan mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap oposisi yang tidak berubah, dan mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap oposisi sosial. Menurut Dusselman (dalam Suryana, 2001:25), seorang yang memiliki jiwa kewirausahaan ditandai oleh pola-pola tingkah laku sebagai berikut:

  • Keinovasian, yaitu usaha untuk menciptakan, menemukan dan menerima ide-ide baru
  • Keberanian untuk menghadapi risiko yaitu usaha untuk menimbang dan menerima risiko dalam pengambilan keputusan dan dalam menghadapi ketidakpastian.
  • Kemampuan manajerial, yaitu usaha-usaha yang dilakukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, yaitu usaha perencanaan, usaha untuk mengkoordinir, usaha untuk menjaga kelancaran usaha, dan usaha untuk mengawasi dan mengevaluasi usaha,
  • Kepemimpinan yaitu usaha memotivasi, melaksanakan, dan mengarahkan terhadap tujuan usaha

Menurut Kathleen L. Hawkins & Peter A. Turla (dalam Suryana, 2001:25-26) pola tingkah laku kewirausahaan tergambar dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut:

  • Kepribadian, aspek ini bisa diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, kepercayaan diri, keberanian menghadapi risiko, memiliki dorongan, dan kemauan kuat
  • Kemampuan hubungan, operasionalnya dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antar personal, kepemimpinan, dan manajemen
  • Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi
  • Keahlian dalam mengatur, operasionalnya diwujudkan dalam bentuk penentuan tujuan, perencanaan, dan penjadwalan, serta pengaturan pribadi
  • Keuangan, indikatornya adalah sikap terhadap uang dan cara mengatur uang

Mengembangkan pribadi wirausaha identik dengan mengembangkan perilaku wirausaha yaitu mengenali diri sendiri dan kendala yang dihadapinya sebagai langkah awal. David McClelland (dalam Suryana, 2001:26) mengemukakan enam ciri perilaku kewirausahaan yaitu:

  • Keterampilan mengambil keputusan dan mengambil risiko yang moderat dan bukan atas dasar kebetulan belaka
  • Bersifat energetik, khususnya dalam bentuk berbagai kegiatan inovatif
  • Tanggung jawab individual
  • Mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya, dengan tolok ukur satuan uang sebagai indiaktor keberhasilan
  • Mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan di masa datang
  • Memiliki kemampuan berorganisasi, yaitu bahwa seseorang wirausaha memiliki kemampuan keterampilan, kepemimpinan, dan manjerial

Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibanding sebelumnya. Menurut Suryana (2001:28) wirausaha yang memiliki motif berprestasi tinggi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Mau mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya sendiri
  • Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan
  • Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi
  • Berani menghadapi risiko dengan penuh perhitungan
  • Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.

Ada beberapa alasan seseorang berwirausaha menurut Suryana (2001: 29) yakni:

  • Alasan keuangan, yaitu untuk mencari nafkah, untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan, sebagai jaminan stabilitas keuangan
  • Alasan sosial yaitu untuk memperoleh gengsi/status, untuk dapat dikenal dan dihormati, untuk menjadi contoh bagi orang tua di desa, agar dapat bertemu dengan orang banyak
  • Alasan pelayanan, yaitu untuk memberi pekerjaan pada masyarakat, untuk menatar masyarakat, untuk membantu ekonomi masyarakat, demi masa depan anak-anak dan keluarga, untuk mendapatkan kestiaan suami/isteri, untuk membahagiakan ayah dan ibu
  • Alasan memenuhi diri, yaitu untuk menjadi atasan/mandiri, untuk mencapai sesuatuyang diinginkan, untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, agar lebih produktif dan untuk menggunakan kemampuan pribadi.

Rangkuman

 

Kewirausahaan adalah suatu kemampuan kreatif dan inovatif dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda yang dijadikan dasar, kiat dalam usaha atau perbaikan hidup. Hakikat dasar dari kewirausahaan adalah kreativitas dan keinovasian. Kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru dan keinovasian adalah berbuat sesuatu yang baru. Kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri karena jelas objek, konsep, teori, dan metode ilmiahnya.

Objek kewirausahaan meliputi kemampuan merumuskan tujuan dan memotivasi diri, berinisiatif, kemampuan membentuk modal dan mengatur waktu, mental yang kuat dan kemampuan untuk mengambil hikmah dari pengalaman.

Watak, sifat, jiwa, dan nilai kewirausahaan muncul dalam bentuk perilaku kewirausahaan dengan ciri-ciri percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, berani menghadapi resiko, kepemimpinan, keorisinilan, dan berorientasi ke masa depan. Jiwa kewirausahaan tidak hanya dimiliki oleh setiap orang yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif, seperti pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat lainnya baik secara indivisual maupun kelompok. Keberhasilan wirausaha sangat tergantung pada beberapa faktor, yaitu kemauan, kemampuan, peluang, dan kesempatan. Ada beberapa alasan mengapa seseorang berminat berwirausaha, yaitu alasan keuangan, alasan sosial, alasan pelayanan dan alasan memenuhi diri.

DAFTAR PUSTAKA

 

Alma, B. 2009. Kewirausahaan. Alfabeta: Jakarta

Suharyadi., Nugroho. A., Purwanto., & Maman. F. Kewirausahaan Membangun Usaha Sukses Sejak usia Muda. Salemba Empat: Jakarta

Suryana. 2001. Kewirausahaan. Salemba Empat: Jakarta

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Januari 2012 in Pembelajaran

 

Tag: , , , , ,